Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Aku kira, memang tak ada. Lebih dari sekali aku hanya digantungkan oleh angan-angan kosong. Jawaban tak pasti, senyuman penipu, hanya segelintir dari apa yang kurasa. Akhirnya, aku mulai paham bahwa memang aku telah melakukan kesalahan. Mendekati sesuatu yang belum halal adanya.
Aku kira, memang tak ada. Lebih dari sekali aku hanya digantungkan oleh angan-angan kosong. Jawaban tak pasti, senyuman penipu, hanya segelintir dari apa yang kurasa. Akhirnya, aku mulai paham bahwa memang aku telah melakukan kesalahan. Mendekati sesuatu yang belum halal adanya.
Sejak itu, aku mulai menjauh. Aku mencoba memperbaiki diriku dulu. Tapi semakin aku menjauh, sesuatu yang harusnya jauh, mulai mendekatiku secara tak terduga.
Awalnya aku tak paham, sampai akhirnya, aku bercakap dengan seorang sahabatku.
“Kamu nggak mau ngerubah sejarah ta?”, celetuknya saat aku sedang sibuk dengan catatanku.
“Ha? Apa maksudnya?”. Aku masih fokus menulis.
“Kamu kan cantik. Alim lagi. Ya, aku tau, dia memang beda”. Kali ini dia tersenyum, saat kulihat dari ujung mataku. Tak tahan, aku pun keluar dari kesibukanku. Pertama, aku bingung. Lama-kelamaan aku paham arah pembicaraannya. Aku lantas tertawa.
“Kamu mau bilang, dia menyukaiku? Apaan sih, Sya. Aku bahkan baru saja mengenalnya dengan baik. Lagian kalaupun iya, aku akan sangat selektif dalam memilih. Aku takut dia tak bisa membimbingku menuju ridho-Nya”. Kami lalu saling tersenyum, lalu tertawa singkat. Setelah itu aku kembali menulis.
Astaghfirullaah. Aku harus tetap ingat, bahwa dia belum halal, batinku. Aku tak boleh terkecoh dan tergoda lagi. Aku harus fokus.
Awalnya aku tak paham, sampai akhirnya, aku bercakap dengan seorang sahabatku.
“Kamu nggak mau ngerubah sejarah ta?”, celetuknya saat aku sedang sibuk dengan catatanku.
“Ha? Apa maksudnya?”. Aku masih fokus menulis.
“Kamu kan cantik. Alim lagi. Ya, aku tau, dia memang beda”. Kali ini dia tersenyum, saat kulihat dari ujung mataku. Tak tahan, aku pun keluar dari kesibukanku. Pertama, aku bingung. Lama-kelamaan aku paham arah pembicaraannya. Aku lantas tertawa.
“Kamu mau bilang, dia menyukaiku? Apaan sih, Sya. Aku bahkan baru saja mengenalnya dengan baik. Lagian kalaupun iya, aku akan sangat selektif dalam memilih. Aku takut dia tak bisa membimbingku menuju ridho-Nya”. Kami lalu saling tersenyum, lalu tertawa singkat. Setelah itu aku kembali menulis.
Astaghfirullaah. Aku harus tetap ingat, bahwa dia belum halal, batinku. Aku tak boleh terkecoh dan tergoda lagi. Aku harus fokus.
Seorang yang kubicarakan ini memang berbeda. Boleh dibilang, jauh dari kriteria dambaan muslimah. Bukan karena rupa maupun materi, tapi karena imannya yang masih dangkal. Karena itulah, aku semakin lama semakin takut.
Tak lama setelah itu, ketika hari ulang tahunku, aku benar-benar kaget atas ucapan “selamat” darinya. Memang biasa. Tapi kalimatnya yang telalu sopan, dan terkesan berbeda dari tabiatnya, membuatku heran.
Keherananku terus berkelanjutan. Semakin banyak perilakunya yang membuatku bertanya-tanya dan tersenyum simpul.
Seiring berjalannya waktu, sifat dan kebiasaannya mulai berubah, tapi apa yang kuinginkan darinya untuk berubah, masih belum ada tanda-tanda.
Seiring berjalannya waktu, sifat dan kebiasaannya mulai berubah, tapi apa yang kuinginkan darinya untuk berubah, masih belum ada tanda-tanda.
Aku tak berusaha memberinya harapan, begitu pula aku tak berharap terlalu banyak padanya. Tapi aku hanya berharap, jika memang dia, itu merupakan pilihan terbaik dari Allah untukku dan dia. Dan karena-Nya lah, aku tetap bertahan, dan akan terus menunggu hingga waktunya tiba.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Cerpen Karangan: Qorina N. S.
Sign up here with your email


terima kasih telah berkunjung ke Blog saya, silahkan berkomentar dengan sopam...!!! ConversionConversion EmoticonEmoticon